Minggu, 20 November 2016

Strategi Membaca




BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta di pergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis( dalam Tarigan:2013).Membaca merupakan kemampuan yang kompleks, bukan hanya memandangi lambang-lambang tertulis semata, bermacam-macam kemampuan dibutuhkan termasuk strategi oleh seorang pembaca agar mampu memahami materi yang dibacanya (Slamet dan Mulyati:1997). Strategi adalah rencana yang cermat megenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (KBBI). Jika strategi dikaitkan dengan proses membaca maka strategi dapat diartikan sebagai suatu cara yang dilakukan pembaca untuk memahami lambang-lambang yang kemudian dilanjutkan dengan pemahaman bacaan.
Usaha memperoleh pemahaman terhadap teks pembaca menggunakan strategi tertentu. Pemilihan strategi berkaitan erat dengan faktor-faktor yang terlibat dalam pemahaman yaitu teks dan konteks. Dalam teori membaca di kenal beberapa strategi membaca, Klein dkk (dalam Rahim:2011) mengkategorikan model-model strategi membaca ke dalam tiga jenis, yaitu bawah-atas (botton up), atas-bawah (top-down), dan model membaca campuran (eclectic).

1.2             Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan model membaca?
2.      Bagaimana model-model strategi membaca?

1

1.3             Tujuan dan Manfaat
1.      Untuk membahas dan memahami apa yang dimaksud dengan model membaca.
2.      Untuk membahas dan memahami apa saja model strategi membaca.




















BAB II
PEMBAHASAN

2.1            Pengertian Model Membaca
      Model membaca diartikan sebagai cara kerja fisik yang berkaitan dengan bagaimana mata membaca atau memandang bacaan sebagai sistem grafis. Cara kerja psikis berkaitan dengan bagaimana cara kerja otak memahami bacaan.  Model membaca dapat diartikan juga sebagai gabungan cara kerja fisik dan psikis yang merupakan proses dalam membaca karena membaca dimulai dari proses visual (mata) dan diakhiri pada proses yang terdapat diotak yaitu memahami atau mengkritisi bacaan (Widiyawati:2014).

2.2            Model-model Strategi membaca
1.      Strategi bawah-atas (button up)
Dalam strategi bawah-atas pembacamemulai proses pemahaman teks dari tataran kebahasaan yang paling rendah menuju ke yang tinggi.pembaca model ini mulai mengidentifikasi huruf-huruf, kata, frase, kalimat, dan terus bergerak ke tataran yang lebih tinggi, sampai akhirnya memahami isi teks. Pemahaman ini dibangun berdasarkan data visual yang berasal dari teks melalui tahapan yang lebih rendah ke tahapan yang lebih tinggi. Klein dkk.(dalam Rahim:2011:36)
Text Box: 3Strategi pemahaman bawah atas umumnya digunakan dalam pembelajaran membaca awal. Mula-mula siswa memproses symbol-simbol grafis secara bertahap, kemudian harus mengenali huruf, memahami rangkaian huruf menjadi kata, merangkai kata menjadi frasa dan kalimat, kemudian membentuk teks. Strategi ini juga digunakan pembaca apabila teks yang dihadapi agak sulit. Kesulitan yang ditemui bisa menyangkut masalah bahasa , bisa pula isi teks. Seorang pembaca yang sulit memahami isi teks , misalnya karena banyak mengandung kata sulit , pembacadapat menggabungkan kata-kata itu menjadi ftase, selanjutnya pemahaman atas frasa itu digunkan untuk memahami kalimat, dan isi keseluruhan teks. Klein dkk.(dalam Rahim:2011:36)
Proses membaca Bottom-up dapat dikonsepkan sebagai berikut :
a.       Mata melihat
b.      Huruf-huruf diidentifikasikan dan disuarakan
c.       Kata-kata dikenali
d.      Kata-kata dikelompokkan ke dalam kelas gramatikal dan struktur kalimat
e.       Kalimat memberikan makna
f.       Kemudian makna mengacu pada pemikiran. (Rahma:2013)

Dalam pengajaran membaca di kelas awal SD, guru menggunakan strategi bawah-atas. Pengajaran membaca yang menggunakan strategi in dimulai dengan memperkenalkan nama dan bentuk huruf kepada siswa, memperkenalkan nama dan bentuk huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Metode ini dikenal juga sebagai metode eja. Klein dkk.(dalam Rahim:2011:37)

2.      Strategi atas-bawah (top down)
Pada model membaca top-down atau yang dikenal dengan model membaca atas bawah terlebih dahulu pembaca menebak atau mengira-ngira makna atau maksud apa yang terdapat dalam bacaan. Misalnya bila si pembaca mengetahui tantang ilmu politik kemudian dia membaca buku tentang politik maka si pembaca tersebut akan berpikir terlebih dahulu kira-kira apa yang akan dibahas dalam buku tersebut, sebelum membacanya. Bila proses membacanya berlangsung si pembaca tidak akan mengalami banyak kesulitan tentang makna yang dimaksud oleh penulis buku karena si pembaca sudah memiliki pengetahuan tentang ilmu politik. (Rahma:2013)

Proses model membaca top-down dapat dikonsepkan sebagai berikut:  
a.       Mata melihat pada teks
b.      Berpikir dan menduga tentang makna
c.       Melihat kalimat sebagai contoh keseluruhan untuk mencari makna
d.      Untuk mencari makna lebih jauh, melihat pada kata-kata
e.       Jika masih belum pasti, melihat lagi pada huruf-huruf
f.       Kemudian kembali pda pemikiran makna.
Berdasarkan proses tersebut jelaslah bahwa model membaca top-down dimulai dari proses pemahaman teks dari tataran yang lebih tinggi. (Rahma:2013)
3.      Strategi campuran (eclectic)
Klein, dkk. (dalam Rahim:2013)  mengemukakan bahwa guru yang baik tidak perlu memakai satu teori saja. Mereka bisa mengambil dan memilih yang terbaik dari semua strategi yang ada, termasuk pandangan-pandangan teoretis dan model pengajaran membaca. Begitu juga model bawah-atas dan atas-bawah bisa digunakan dalam waktu bersamaan jika diperlukan.







 



BAB III
PENUTUP

3.1            Kesimpulan
Model membaca adalah gabungan antara otak dan psikis dalam memahami bacaan. Adapun kategorinya di bagi menjadi tiga yaitu metode bawah-atas (botton up), atas-bawah (top-down), dan model membaca campuran (eclectic) yang masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri.

3.2            Saran
Setelah membahas dan mengetahui model-model strategi membaca, diharapkan pembaca dapat memanfaatkan secara maksimal baik dalam proses belajar maupun mengajar.














6

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahim, Farida.2011.Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi   Aksara.
Tarigan, Hendry Guntur.2013.Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Mulyati,Teti dkk..1997. Membaca 2.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.















                                                        7






Makalah Membaca Pemahaman Literal



BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta di pergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis. (Tarigan:2013)
Membaca merupakan kemampuan yang kompleks, bukan hanya memandangi lambang-lambang tertulis semata, bermacam-macam kemampuan dibutuhkan termasuk strategi oleh seorang pembaca agar mampu memahami materi yang dibacanya (Slamet dan Mulyati:1997).  
Berdasarkan dua pengertian membaca maka dapat di tarik kesimpulan bahwa membaca adalah proses yang dilakukan seseorang untuk  memahami isi suatu bacaan. Ketika proses membaca berlangsung dibutuhkan beberapa kemampuan yang memunculkan suatu tindakan untuk menghadirkan pemahaman pada diri sendiri ataupun orang lain. Pemahaman terhadap isi bacaan tersebut memiliki beberapa tingkatan. Menurut Burn, dkk (1996) dan Syafi’ie (1993) mengemukakan dua tingkatan pemahaman membaca, yaitu pemahaman literal dan pemahaman tingkat tinggi. Pemahaman literal adalah kemampuan menangkap informasi yang dinyatakan secara tersurat dalam teks. Sedangkan pemahaman tingkat tinggi adalah pemahaman yang lebih bersifat evaluatif dan memerlukan pemikiran kritis dari pembaca. Namun dalam penyusunan  makalah kali ini guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keterampilan Membaca tingkat pemahaman yang akan di bahas adalah membaca pemahaman literal . 

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan membaca literal?
2.      Apa tujuan membaca pemahaman literal ?
3.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi membaca pemahaman literal ?


1.3            Tujuan dan Manfaat
1.      Membahas dan memahami apa yang dimaksud dengan membaca literal.
2.      Membahas dan memahami  tujuan membaca pemahaman literal.
3.      Membahas dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi membaca pemahaman literal.
4.      Membahas dan memahami bagaimana model membaca pemahaman literal.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1            Pengertian Membaca Pemahaman Literal
Membaca pemahaman literal adalah membaca teks bacaan dan memahami isi bacaan tentang apa yang disebutkan di dalam teks secara tersurat. (Yuli:2012). Pemahaman literal merupakan prasyarat bagi pemahaman yang lebih tinggi (Burns dan Roe dalam Hairuddin, dkk, 2007:3-24)
Membaca literal merupakan kegiatan membaca sebatas mengenal dan menangkap arti (meaning)yang tertera secara tersurat (eksplisit). Artinya,pembaca hanya berusaha menangkap informasi yang terletak secara literal (reading the lines) dalam bacaan dan tidak berusaha menangkap makna yang lebih dalam lagi. (Harras:1998)
Cochran (1991:16) menjelaskan bahwa pemahaman literal mencakup rincian yang terdapat teks, rujukan kata ganti, dan urutan peristiwa dalam cerita. Sehingga dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman literal adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks yang merupakan pemahaman tingkat paling rendah. Walaupun tergolong tingkat rendah, pemahaman literal tetap penting, karena dibutuhkan dalam proses pemahaman bacaan secara keseluruhan.
2.2            Tujuan Membaca Pemahaman Literal.
Membaca literal bertujuan hanya mengenal arti yang tertera secara tersurat dalam teks bacaan. Pembaca cukup menangkap informasi yang tertera secara literal (reading the lines) dalam teks bacaan. Ia tidak berusaha mendalami atau menangkap lebih jauh. Teknik seperti ini biasanya dipakai dalam proses belajar mengajar tingkat rendah, misalnya siswa SD-SMP. (Dandi:2012)
2.3            Faktor-faktor yang Mempengaruhi Membaca Pemahaman 

Guna meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, sekurang-kurangnya guru perlu membina lima faktor pendukung pemahaman seperti yang diungkapkan oleh Burn, Reo dan Ross (1996: 112) yaitu;
1.      Potensi skemata pembaca
            Setiap manusia memiliki potensi untuk berkembang. Potensi itu ada pada diri siswa itu sendiri yang tersimpan di dalam memorinya. Hal ini sebagaimana yang dinyataan oleh Cahyono (1992/1993: 25) bahwa: “Skemata adalah berupa pengetahuan yang tersimpan di dalam memori siswa yang dapat berfungsi pada saat siswa menginterpretasi informasi baru serta membiarkan informasi baru itu masuk dan menjadi bagian dari pengalaman yang tersimpan.”
2.      Potensi Mengingat
            Kemampuan mengingat adalah suatu kemampuan kognisi yang dimiliki oleh setiap orang. Dalam Taksonomi Bloom kemampuan ini termasuk kemampuan tingkat rendah. Mengingat sangat diperlukan dalam membaca, karena dengan mengingat pembaca dapat menggungkapkan kembali dan menghubungkan antara apa yang dibaca dengan apa dipahaminya.
3.      Perspektif pembaca
            Perspektif pembaca merupakan potensi yang sangat menentukan pemahaman seseorang dalam membaca teks bacaan. Dengan perspektif yang dimilki oleh siswa terhadap bacaan yang dibacanya dapat memberikan kemudahan dalam memahami isi bacaan. Perspektif yang dimaksud adalah pendapat, anggapan, dan tinjauan pembaca terhadap teks yang dibacanya.
4.      Kemampuan berpikir
Kemampuan berpikir adalah syarat untuk memahami sesuatu. Untuk memahami isi bacaan diperlukan kognisi siswa. Kemampuan berpikir yang dimaksud adalah kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis tentang apa yang dibacanya.
5.      Aspek afektif
Aspek afektif adalah aspek yang juga menentukan kemampuan sesorang memahami isi bacaan dengan baik. Apektif adalah sikap seseorang terhadap teks yang dibacanya. Dengan memiliki sikap yang positif atau dengan kemampuan pembaca menanggapi isi teks dengan baik, maka akan menghasilkan pemahaman yang baik.
Selain hal tersebut di atas, Anthony dalam Rumijan (2002: 20) menyatakan bahwa ada tiga faktor yang perlu diketahui dan dikembangkan oleh guru dalam proses pemahaman isi bacaan, yaitu;
1.      Karakteristik Pelajar­
Membina kemanpuan siswa di SD membawa pemahaman guru perlu mengetahui karakteristik siswa yang meliputi pengetahuan latar pengetahuan kosakata, dan pengetahuan metokognitif. Ketiga hal tersebut dibahas sebagai berikut. 
a.       Pengetahuan latar
Pengetahuan latar adalah pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa yang berkaitan dengan topik bacaan yang akan dibaca. Mengetahui latar pengetahuan siswa sangat membantu memahami isi bacaan. Memiliki latar pengetahuan yang cukup berkaitan dengan teks bacaan yang akan dibaca akan berpengaruh pada kemampuan siswa memahami isi bacaan Cleary dalam Rumijan (2002: 64) menyatakan bahwa: “Anak yang memiliki latar pengetahuan yang serupa dengan teks yang akan dibacanya sangat membantu anak dalam membaca.”
Upaya yang dapat dilakukan untuk menggali latar pengetahuan siswa dengan teks yang akan dibacanya dapat dilakukan dengan cara menghubungkan dan mencocokkan latar pengetahuan siswa dengan topik atau isi bacaan dengan cara membangkitkan skemata siswa melalui kegiatan bertanya jawab, memprediksi isi gambar. Cara seperti ini memiliki keuntungan, yaitu siswa secara tidak langsung dapat terampil berbicara yaitu mengemukakan pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang sudah dimiliki yang berkaitan dengan topik bacaan yang dibicarakan.
Menghubungkan pengetahuan latar siswa dengan isi bacaan dapat diperkuat dengan bantuan gambar, yaitu dengan cara memberi informasi singkat tentang garis besar isi bacaan, memberi tugas menebak judul bacaan, melakukan tanya jawab untuk menebak (perkiraan) isi bacaan. Dengan cara seperti ini dapat memudahkan siswa menelusuri atau menemukan isi bacaan yang dibacanya.
Latar belakang budaya juga menentukan potensi membaca pemahaman bagi siswa. Kesesuaian latar belakang budaya dengan isi bacaan yang akan dibaca dapat mempengaruhi interpretasi (penafsiran) isi bacaan. Dengan memiliki kemampuan interpretasi akan mudah memahami isi bacaan. Miller dalam Rumijan (2002: 80) menyatakan bahwa: “Anak membaca teks bacaan sesuai latar belakang budaya dapat mudah memahami isi bacaan. Sementara anak membaca topik bacaan yang tidak sesuai latar belakang budayanya akan mengalami kesulitan memahami isi bacaan.”
b.      Pengetahuan Kosakata
Pengetahuan kosakata yang dimiliki oleh siswa sangat berpengaruh terhadap kemampuan memahami isi bacaan. Guna meningkatkan kemampuan membaca pemahaman literal, guru harus membekali pengetahuan kosakata bagi siswa. Penguasaan kosakata berpengaruh terhadap pemahaman teks bacaan. Cara yang etektif untuk meningkatkan kosakata siswa adalah (a) memilih dan menemukan kata kunci, (b) memberi petunjuk yang menekankan hubungan antara kata dengan pengalaman atau pengetahuan latar pembaca, dan (3) melatih menggunakan kosakata dalam kalimat.
c.       Pengetahuan Metakognitif
Meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, guru perlu meningkatkan metakognitif siswa. Metakognitif adalah kemampuan untuk menjelaskan mengapa seseorang melakukan strategi tertentu, misalnya memahami isi bacaan. Metakognitif dapat dikembangkan melalui pengalaman dan pembelajaran. Melalui pengembangan metakognitif siswa dapat menyadari langkah-langkah yang diambil dalam memahami isi bacaan.

Membangun metakognitif siswa dalam hal memaham isi bacaan dapat dilakukan dengan cara (a) guru menjelaskan proses membaca pemahaman secara eksplisit dengan memberi informasi tentang bagaimana dan kapan strategi itu digunakan (b) dengan cara pembelajaran timbal balik akan dapat mempengaruhi terhadap strategi memahami isi bacaan yang meliputi: meringkas isi bacaan, membuat pertanyaan isi bacaan, menjelaskan, memprediksi isi bacaan, melibatkan siswa dalam pembelajaran membaca pemahaman.
2.      Karakteristik Teks
Pengetahuan tentang karakteristik teks dapat dipakai untuk membantu pemahaman teks bacaan. Pemahaman tentang karakteristik isi teks bacaan sangat membantu siswa dalam mamahami isi bacaan. Pemahannan terhadap jenis teks yang akan dibaca merupakan hasil dari pembentukan makna yang timbal balik antara pembaca dan teks bacaan.
3.      Konteks Sosial
Konsteks sosial merupakan lingkungan sosial dimana siswa berada. Pengaruh konteks sosial terhadap pembelajaran membaca pemahaman adalah bahwa latar belakang budaya dan konteks pembelajaran digunakan dapat mempengaruhi pemahaman isi bacaan. Sejalan dengan hal tersebut di atas, Burn, Roe dan Ross (1996: 130 menyatakan bahwa dalam membaca ada dua bagian utama yang perlu diketahui, yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada aktivitas yang bersifat mental maupun fisik. Sementara mebaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi aktivitas yang dilakukan pada saat membaca.
Pemahaman literal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kemampuan mengenali kembali dan mengingat kembali informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Kemampuan mengenali kembali (recognition) adalah kemampuan mengidentifikasi atau menunjukkan informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Kemampuan ini mencakup beberapa hal, yaitu: mengenali kembali rincian-rincian, ide-ide utama, urutan, perbandingan, hubungan sebab-akibat, dan karakter tokoh yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Selanjutnya, kemampuan mengingat kembali adalah kemampuan mengingat kembali informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Kemampuan ini mencakup: mengingat kembali rincian, ide utama, suatu urutan, perbandingan, hubungan sebab-akibat, dan karakter tokoh yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks.
            Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa pemahaman literal merupakan prasyarat untuk tingkat pemahaman yang lebih tinggi, yaitu membaca untuk memperoleh detail isi bacaan secara efektif. Pemahaman ini dimaksudkan untuk memahami isi bacaan secara efektif. Pemahaman ini dimaksudkan untuk memahami isi bacaan seperti yang tertulis pada kata, kalimat, dan paragraf dalam teks bacaan. Pemahaman literal menuntut kemampuan ingatan tentang hal-hal tertulis dalam teks.
2.4            Model Membaca Pemahaman Literal
Punfey dalam Rumijan (2002: 25) menyatakan bahwa: “Mengembangkan pemahaman literal dibagi dua kategori, yaitu kemampuan mengenal dan kemampuan mengungkapkan kembali isi bacaan berupa (1) detail, (2) ide pokok, (3) urutan, (4) perbandingan, (5) hubungan kausal, (6) pelaku dalam bacaan.” Dari uraian isi bacaan literal atau seperti yang tersurat di dalam teks bacaan dan pada hakikatnya adalah kemampuan menginterpretasi makna dalam teks bacaan.
Untuk membangun pemahaman literal, siswa diberikan panduan pertanyaan arahan seperti yang dikemukakan oleh Burn, Roe dan Ross (1996: 47) yaitu: “(1) Siapa, untuk menyakan orang/binatang atau tokoh di dalam wacana, (2) apa, untuk menanyakan barang, bench, dan peristiwa, (3) di mana, untuk menanyakan tempat. (4) kapan, untuk menanyakan waktu, (5) bagaimana, untuk menanyakan proses jalannya suatu peristiwa alasan untuk sesuatu, dan (6) mengapa, untuk menanyakan sesuatu sebagaimana disebutkan di dalam bacaan”.
Panduan untuk memahami isi bacaan secara literal seperti di atas diharapkan dapat dijadikan petunjuk untuk memahmi isi bacaan. Shanklin dan Rhodes dalam Burn, Roe dan Ross, (1996: 105) menyatakan bahwa: “Kemampuan memahami isi bacaan merupakan suatu proses yang berkembang secara terus-menerus dan dapat dimulai sebelum buku dibaca dan berkembang setelah buku selesai dibaca.

Contoh Teks :
Telinga Wajan
Pagi begitu dingin, hujan turun sangat lebat, kasur-kasur empukku rasanya pakai lem. Susah sekali bangun, padahal aku harus ke sekolah. Gedor-gedor pintu yang semakin lama semakin mengeras nyatanya  tidak berhasil menganggu tidurku. Sepertinya pelaku gedor-gedor pintu   itu adalah ibu yang sudah kehilangan kesabaran. Aku tahu pasti sudah lebih dari sepuluh kali ibu meneriakiku anak durhaka.  Lebih sepuluh panggilan tak terjawab, kurang dari lima makian dan teriakan yang hampa jawaban, ibu kemudian diam. Diam untuk saat itu, sejam kemudian saat kubuka  pintu ibu sudah berdiri depan pintu dengan lincah menarik kupingku. Aku kesakitan minta ampun sampai telingaku merah.
“Tiap hari seperti ini! Mau jadi apa kamu jika besar nanti?”
Panjang lebar ibu mengomel, sambil menyalahkan diri sendiri...
“Ngidam apa aku waktu mengandungmu... Allohu Akbar!”
Aku diam saja karena tahu diri salah. Ibu kemudian menghela nafas, Mengaturnya, sedemikian sulit menahan marah.
“Nak. Coba perhatikan telinga wajan!”
Alisku mengerut.
“Wajan itu telinganya saja yang lebar... tapi tak mendengar!!!” amarah ibu naik lagi. Kemudian tarik nafas lagi...
“Kalau begitu Aco, karena kau tak ke sekolah hari ini ikutlah dengan ibu.” Ajak ibu
“Kemana bu??”
“Ikut saja...!”
Aku dan ibu pun pergi, di sepanjang jalan ibu menunjuk laki-laki dewasa yang berpanas-panas mengangkut semen, dan para penyapu jalan.
“Apa kau mau bekerja seperti mereka?” tanya ibu.
“Ahh tidaklah bu. Aku akan duduk di ruang berase!”
“Ohh ya? Kau mau bersantai. Yah jelas kau suka sekali bersantai. Tapi taukah nak! Orang-orang yang sukses, bersantai di masa tuanya mereka bukan orang-orang yang tidur dari malam sampai siang di waktu mudanya. Kalau kau ingin santai di masa tua Aco, maka bekerja keraslah di masa mudamu. Tapi jika kau ingin menjadi buruh, atau apapun yang keras pekerjaannya maka silahkan bersantai  di masa mudamu.”
Aku baru sadar. Hari-hari berikutnya tidak lagi terlambat bangun. Ibu membantuku, di awal usaha bangun pagi. Tetapi di hari berikutnya sudah terbiasa, aku memasang target bangun sebelum matahari terbit, tak boleh kalah sama Ayam yang menyambut pagi.
Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan isi teks
  1. Siapakah nama anak ibu pada cerita Telinga Wajan?
  2. Mengapa ibu mengomel di pagi hari dalan cerita Telinga Wajan?
  3. Bagaimana latar tempat dan waktu dalam cerita Telinga Wajan?
  4. Apa yang memacu aku untuk bangun pagi setiap hari ?
  5. Membuat ringkasan cerita Telinga Wajan berdasarkan pemahaman sendiri!

 
BAB III
PENUTUP

3.1                        Kesimpulan
Membaca adalah proses memahami isi bacaan. Dalam membaca terdapat beberapa tigkatan pemahaman salah satunya membaca pemahaman literal yang merupakan salah satu pemahaman bacaan secara eksplisit ( sesuai dengan isi teks yang tersurat). Ketika proses membaca terdapat juga factor-faktor yang dapat  mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang, baik itu berasal dari pembaca itu sendiri ataupun dari teks bacaan.
3.2                        Saran
Setelah membahas dan mengetahui tentang membaca pemahaman literal, pembaca diharapkan mampu menerapkannya dalam proses belajar mengajar ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi membaca pemahaman literal merupakan tingkat pemahaman dasar dalam memahami teks dan merupakan tahap yang harus dikuasai menuju tingkat pemahaman lebih tinggi.









11
 
 
DAFTAR PUSTAKA

Nurhadi. 2010. Bagaimana Meningkatkatkan Kemampuan Membaca. Jakarta: Sinar Baru Algensindo.
Rahim, Farida.2011.Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi   Aksara.
Tarigan, Hendry Guntur.2013.Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Rosisi, Imron. 2009. Keterampilan Berbahasa . Internet. http://guru-umarbakri.blogspot.co.id/2009/07/keterampilan-berbahasa_26.html. (18/11/2016)
Purnama, Yuli. 2012. Membaca Literal. Internet. http://ryanyulipurnami.blogspot.co.id/2012/10/membaca-literal.html. (18/11/2016)


12