Bahasa Indonesia
terus-menurus menemui kebaharuan dan konsisten menjadi bahasa akademik dan
wadah keilmuan. Salah satu tindakan mulia yang bisa kita lakukan untuk memupuk
nasionalisme adalah memartabatkan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Untuk itu,
bahasa Indonesia adalah salah satu instrumen yang harus dijadikan sebagai instrumen
perjuangan yang menarasikan peradaban Indonesia.
Bahasa Indonesia hadir
sebagai fungsi pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta
teknologi, bahasa Indonesia menjadi perekat hubungan kebudayaan yang beragam.
Tanpa bahasa Indonesia, tentu penyebarluasan kebudayaan Indonesia tidak begitu
cepat dapat dinikmati oleh warga Indonesia. Permasyarakatan bahasa Indonesia harus
dilakukan sejak dini dan secara kontinyu agar kecintaan terhadap bahasa
Indonesia tetap hadir dalam sanubari kita. Oleh karena itu, negara Indonesia masih
sangat membutuhkan pakar bahasa
Indonesia untuk terus melanjutkan perjuangan bangsa dalam hal politik bahasa.
Bahasa
Indonesia tidak bisa lepas dari aspek pendidikan kita. Bahasa Indonesia menjadi
hal fundamental dalam keberlanjutan pendidikan kita selama ini. Hal itu,
dikarenakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar baik dalam lingkungan
formal maupun sebatas percakapan akademik. Bahasa Indonesia sebagai ilmu
pengetahuan menawarkan ragam kajian dan riset yang sangat menarik untuk kita
kerjakan. Bahasa Indonesia memiliki ruang yang cukup luas untuk bereksprimen
dalam konteks ilmiah. Misalnya, aspek kebudayaan, keseniaan, tradisi, kebahasaan
dan kesastraan itu sendiri, sungguh sebuah hal yang cukup menantang nalar kita.
Terkait
konteks pembangunan
Indonesia, bahasa Indonesia sejatinya adalah detak jantung kebudayaan dan
pendidikan. Narasi ini semestinya selalu digaungkan oleh siapa saja yang
mencintai bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia berhasil menjadi penunjang
perkembangan bahasa dan sastra Indonesia atau alat untuk menyampaikan gagasan
yang mendukung pembangunan Indonesia.
Keterpilihan bidang
studi Pendidikan Bahasa Indonesia untuk program magister tidak lepas dari apa
yang saya uraikan
di atas. Terlebih, ketertarikkan saya terhadap disiplin ilmu bahasa
Indonesia saya manifestasi dengan cara menggelutinya di bangku kuliah. Hal itu
saya bukti dengan belajar penuh ketekunan hingga saya mampu menyelesaikan studi
hanya dengan 3.6 tahun. Mengantongi IPK 3.72 adalah pembuktian saya untuk
memantapkan diri agar semakin pendalami bahasa Indonesia. Pencapaian tidak lepas dari kecintaan
terhadap bahasa Indonesia.
Atas dasar hal tersebut,
saya memiliki keinginan besar melanjutkan studi untuk mengembangkan kemampuan
dan pemahaman tentang ilmu lingusitik dalam memajukan pendidikan, seperti
pengajaran bahasa dan kesusastraan. Selain itu, dengan memilih prodi Pendidikan
Bahasa Indonesia, akan semakin memantapkan saya untuk menjadi pembelajar Bahasa
Indonesia yang baik.
Setelah melakukan riset
di beberapa perguruan tinggi se-Indonesia, akhirnya saya menjatuhkan pilihan
pada Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sebagai perguruan tinggi
prioritas. Saya berencana mengambil program Master Pendidikan dengan
konsentrasi Pendididikan
Bahasa Indonesia. Kampus ini terakreditasi A oleh Badan
Akreditasi Nasional PT. Meski terbilang berumur muda, UNS menempati urutan kesebelas dalam daftar 100
kampus yang diperingkat oleh kemenristekdikti. Selain itu, UNS berada di
peringkat kelima kategori kampus ramah lingkungan versi UI Green Metric. Berdasarkan aspek tersebut, kampus ini
tentunya menciptakan motivasi belajar tinggi dan juga tercatat memiliki 132
guru besar di berbagai bidang.
Terkhusus, di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, UNS memiliki dosen-dosen yang berkualifikasi
doktor dan 80 persen di
antaranya bergelar profesor. Di samping itu, kurikulum Pendidikan Bahasa
Indonesia di UNS sejalan dengan yang saya butuhkan; Kajian Kebudayaan, Kajian Kesusastraan, Kurikulum dan Pengembangan Materi Ajar, Evaluasi Pengajaran
Bahasa,
Pengajaraan bahasa dan sastra Indonesia.
Perguruan
tinggi pilihan kedua saya jatuh pada Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, universitas yang telah melahirkan guru-guru
berkualitas dan profesional. Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2018
berada dalam urutan ke-13 kampus terbaik menurut Kemenristekdikti, terbaik
kedua dari urutan kampus kependidikan dan keguruan berdasarkan hasil verifikasi
fasilitas, sumber daya manusia, program kemahasiswaan, karir alumni, riwayat
prestasi akademik kampus, dan sebagainya. Mengenai kurikulum, mata kuliah yang
tawarkan tidak jauh berbeda dengan UNS. Adapun yang menurut saya relevan adalah
metodologi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, evaluasi pemebelajaran
bahasa dan sastra Indonesia, problematika pembelajaran bahasa dan sastra
Indonesia.
Perguruan
tinggi pilihan ketiga saya jatuh pada Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Tidak kalah dengan perguruan tinggi lain, Unnes juga telah banyak melahirkan
guru yang berkulaitas. Tahun ini, Unnes menduduki peringkat ke-6 perguruan
tinggi paling diminati dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN)
2019. Kampus Unnes juga memiliki reputasi yang baik, terkhsus untuk program
magister pendidikan bahasa Indonesia memiliki akreditasi A. Untuk pilihan mata
kuliah yang relevan, Kajian Kebudayaan, Kajian Kesusastraan, Kurikulum dan Pengembangan Materi Ajar, Evaluasi Pengajaran Bahasa, Pengajaraan bahasa dan sastra Indonesia. Ketiga
kampus tersebut adalah pilihan yang paling tepat untuk saya yang memiliki
ketertarikan tinggi terhadap pengembangan bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia.
Kelak setelah
menyelesaikan
pendidikan S2 berkat bantuan LPDP, saya akan kembali ke kota asal yaitu
Kabupaten Sinjai. Saya
memiliki visi untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap potensi yang
dimiliki daerah melalui pembelajaran bahasa Indonesia. Terlebih, selama ini,
belum pernah ada bahan ajar yang fokus pada daerah tertentu.
Relevansi
program studi yang saya pilih dengan kebutuhan institusi adalah dua hal yang
tidak bisa dipisahkan. Bahasa Indonesia di asal institusi merupakan salah satu
prodi yang familiar dan favorit, hampir setiap tahun secara signifikan
meningkat. Hal itu, berimplikasi dengan kebutuhan tenaga pengajar yang perlu
ditambah. Dengan begitu, disiplin ilmu yang saya pilih ini menjadi salah satu
yang dibutuhkan untuk memenuhi kompetensi pengajar di kampus kelak. Ini sejalan
dengan cita-cita saya untuk kembali menjadi pendidik di kampus asal saya, UNM.
Selain itu, untuk memenuhi cita-cita leluhur bangsa
Indonesia sesuai
UUD 1945 yang tertuang dalam alenia ke IV yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ingin mengambil peran dalam kemajuan pendidikan bangsa, saya berkeinginan
mendirikan lembaga pendidikan gratis namun
memiliki kualitas yang bagus, mengingat di kota asal saya Kabupaten
Sinjai masih banyak
anak-anak yang membutuhkan pendidikan akan tetapi memiliki ekonomi lemah.
Setidaknya melalui hal sederhana ini, saya bisa berkonstribusi dalam
pembangunan nasional dan sebagai wujud kecintaan saya terhadap bangsa Indonesia. Saya berharap, LPDP membantu saya
mewujudkan impian saya. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar